Umat Islam Harus Paham Hukum Waris

MedanBisnis – Medan. Umat Islam harus belajar dan dapat memahami terkait hukun waris. Bukan hanya untuk menperlihatkan keadilan dalam mendistribusikan harta orang yang meninggal, tapi hukum waris itu juga bergerak semuanya mengikuti perkembangan zaman.

Hal ini dikatakan Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Syukri Albani Nasution di acara penyuluhan Hukum Waris oleh Komisi Hukum/Perundang-undangan Sosial dan Advokasi MUI Kota Medan, di kantor aula MUI Kota Medan, Sabtu (19/5). Hadir sebagai narasumber lainnya Pakar Wakaf UIN Sumut Syafruddin Syam dan Sekretaris Komisi Hukum/Perundang-undangan MUI Kota Medan Legimin Syukri.

Dijelaskan Syukri Albani, pentingnya ilmu waris itu juga untuk mengendalikan manusia yang cenderung bersifat serakah, mengantisipasi niat jahat orang untuk memanfaatkan kematian sebagai salahsatu jalan menjadi kaya secara tiba-tiba dan untuk memperlihatkan keadilan dalam mendistribusikan harta orang yang meninggal.

�Jadi umat Islam harus belajar soal ilmu waris ini karena di dalamnya diatur dengan jelas siapa orang yang berhak menerima harta warisan, pembagian harta warisan dan agar terhindar dari perselisihan karena perebutan harta watusan serta supaya beban si mayit menjadi ringan dengan adanya aturan dalam ilmu fiqih mewaris ini,� ucapnya.

Di dalam ajaran Islam, papar Syukri, terdapat asas-asa hukum kewarisan yakni asas ijbari (kewajiban) mengatur tata cara peralihan secara otomatis harta dari seorang baik pewaris maupun ahli waris sesuai dengan ketetapan Allah SWT. Kemudian asas bilateral yakni mengandung makna seseorang menerima hak mewarisi. Laki-laki dan dari kerabat keturunan perempuan.

Lalu, lanjutnya, juga asas individual yakni menyatakan harta warisan dapat dibagi kepada masing-masing ahli waris untuk dimiliki secara perorangan. Asas keseimbangan antara hak yang diperoleh seseorang dari harta warisan dengan kewajiban beban biaya kehidupan yang harus ditunaikannya.

Serta asas kematian yang menandakan bahwa peralihan harta seseorang kepada orang lain terjadi setelah orang yang mempunyai harta meninggal dunia. �Dalam mempelajari ilmu waris ini juga diatur bahagian ahli waris. Ahli fardhu ke bawah, ke atas, menyamping dan bagiannya.

Belum lagi ada penghalang mewarisi karena membunuh, mencoba membunuh, penganiayaan berat, memfitnah dan berbeda agama,� paparnya.

Sementara Syafruddin Syam dalam materinya menyatakan, tujuan ilmu waris agar dapat melaksanakan pembagian harta waris kepada ahli waris yang berhak menerima sesuai dengan ketentuan syariat dan menentukan pembagian harta warisan secara adil dan benar.

�Tapi ada yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum bagi warisan yakni biaya pengurusan jenazah, membayar utang, melaksanakan wasiat dan membayar zakat hartanya jika zakatnya belum dibayarkan,� katanya.

Narasumber lainnya Legimin Syukri memaparkan, ada 11 golongan yang terhalang mendapat warisan yakni budak atau hamba sahaya, pembunuhan, berlainan agama, murtad, hilang tanpa berita, talak yang habis masa iddahnya, talak 3, anak angkat, ayah tiri, ibu tiri dan anak tiri serta anak hasil li�an dan anak yang lahir dari hasil perzinahan. (yuni naibaho)

Sumber: http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2018/05/21/347909/umat_islam_harus_paham_hukum_waris/

About The Author

Calon Hakim-Aktualisasi PTIP

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *