Macam-Macam Akad

Oleh : NORHADI.

A. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Dalam berbagai ayat suci, sejak awal Allah SWT tidak hanya memerintahkan kita shalat dan puasa saja tetapi juga bermuamalah secara halal (syariah) proses memenuhi kebutuhan hidup inilah yang menghasilkan  kegiatan ekonomi tidak terkecuali dalam masyarakat Islam yang kehidupannya dituntun sesuai ajaran Nya walaupun kita lihat perkembangan ekonomi islam (baca: syariah) masih dalam tahap pengembangan.

Dasar-dasar dalam ekonomi islam adalah bebas riba, bebas gharar, bebas maysir, dan bebas tadlis.

Dalam melaukuan suatu kegiatan muamalah, islam mengatur ketentuan-ketentuan akad. Ketentuan akad ini tentunya berlaku dalam kegiatan lembaga keungan syariah seperti perbankan syariah. Akad-akad dalam permuamalahan (transaksi) sangatlah beragam secara fungsi dan tentunya yang lebih penting terpenuhinya rukun dan syarat akad haruslah diperhatikan. Dalam makalah ini secara sederhana menguraikan konsep akad (perikatan) dalam hukum Islam dijelaskan secara umum dan singkat saja. karena akad secara umumnya sangatlah laus dalam bermuamalah, untuk menghindari dan tentunya juga disesuaikan dengan program studi yang diambil adalah Hukum Ekonomi Syariah  pembahasan akad ini dipersempit pada bidang yang sedang ditekuni. Dalam judul makalah Macam-Macam Akad ,

B. Rumusan Masalah

  • Bagaimana Konsep Akad itu Sendiri
  • Bagaimana macam-macam Akad dalam transaksi syariah

C. PEMBAHASAN

  1. Konsep Akad

Akad secara umum, pengertian akad dalam arti luas hampir sama dengan pengertian akad dari segi bahasa, akad adalah segala sesuatu yang dikerjakan seseorang berdasarkan keinginan sendiri. Pengertian secara khusus adalah perikatan yang ditetapkan dengan ijab dan qabul  berdasarkan ketentuan syara yang berdampak pada objeknya. Jadi akad dapat disimpulkan adalah suatu yang sengaja dilakukan oleh kedua belah pihak berdasarkan persetujuan masing-masing.[1]

Aspek legalitas pelaku muamalah (transaksi) dalam ber akad harus memenuhi ketentuan akad itu sendiri yang memenuhi rukun dan syarat akad seperti :

  1. Rukun : adanya penjual, pembeli, barang, harga dan ijab kabul.
  2. Syarat : barang dan jasa harus halal, harga harus jelas, tempat penyerahan harus jelas, barang yang ditransaksikan harus sepenuhnya dalam kepemilikan.[2]

Landasan dalam ber akad adalah keridaan[3] sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 29

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan  harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Konsekuensi hukum dari suatu akad adalah :

  • Terjadi perpindahan hak dan kewajiban dari para pihak (timbal balik)
  • Terjadi Perpindahan kepemilikan dari satu pihak kepada pihak lain
  • Berubahnya status hukum ( Dari Haram menjadi Halal).[4]

Akad dibagi menjadi beberapa jenis, yang setiap jenisnya sangat bergantung pada sudut pandangnya. Jenis akad tersebut adalah :

  1. Berdasarkan pemenuhuan syarat dan rukun, seperti sah atau tidak sahnya suatu akad.
  2. Berdasarkan apakah syara’ telah memberi nama atau belum, seperti contoh akad yang telah dinamai syara’, seperti jual-beli, hibah, gadai dan lain-lain. Sedangkan akad yang belum dinamai syara’, tetapi disesuaikan dengan perkembangan jaman.
  3. Berdasarkan barang diserahkan atau tidak , ( dibaca: zatnya), baik berupa benda yang berwujud (al-‘ain) maupun tidak berwujud ( ghair al-‘ain).[5]

 

  1. Akad-Akad Transaksi Syariah

Islam merumuskan suatu sitem ekonomi yang sama sekali berbeda dengan sistem ekonomi lain, yang selama ini kita kenal. Hal ini karena ekonomi Islam memiliki akar dari Syariah yang menjadi sumber dan panduan bagi setiap muslim dalam melaksanakan aktivitasnya. Dari dasar tersebut, maka sistem ekonomi syariah dalam membangun jaringan transaksinya yang disebut “akad-akad syariah” memiliki suatu standar istilah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis.[6]

Dalam transaksi lembaga keuangan syariah, khususnya perbangkan syariah ada dua jenis yang dikenal yaitu :

  1. Tabungan/penghimpun dana (Funding),  seperti Wadiah dan Mudharobah,

Wadi’ah artinya Titipan, dalam terminologi, artinya menitipkan barang kepada orang lain tanpa ada upah. Jika Bank meminta imbalan (ujrah) atau mensyaratkan upah, maka akad berubah menjadi ijaroh. Pada bank Syariah seperti Giro berdasarkan prinsif wadi’ah

– Mudharobah  adalah Kerja sama antara dua pihak di mana yang satu   sebagai penyandang dana (shohib al-maal) dan yang kedua sebagai pengusaha (mudhorib) sementara keuntungan dibagi bersama sesuai nisbah yang disepakati dan kerugian finansial ditanggung pihak penyandang dana.[7] Dalam bank syariah seperti  Tabungan maunpun Deposito berdasarkan prinsip mudharobah

 

  1. Pembiayaan/Penyaluran dana (Financing), pembiayaan ini dikelompokkan menjadi 4 yaitu :
  2. berbasis jual beli (al- bay) seperti murabahan, salam dan istishna.     Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati,

           Salam adalah  pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari, sementara pembayarannya dilakukan di muka.[8]

 

            Istishna,  adalah merupakan suatu jenis khusus dari bai’ as-salam yang merupakan akad penjualan antara pembeli dan pembuat barang. Dalam akad ini pembuat barang menerima pesanan dari pembeli, pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir.[9]

  1. Berbasis bagi hasil (syirkah) seperti mudharobah,  dan musyarokah

Mudharobah, adalah akad antara pihak pemilik modal (shahibul mal) dengan pengelola (mudharib) untuk memperoleh pendapatan atau keuntungan.[10]

Musyarokah,  adalah perjanjian (akad) antara dua pihak atau lebih dalam suatu usaha tertentu, yaitu masing-masing pihak akan memberikan kontribusi berdasarkan kesepakatan, misalnya : kalau adaa keuntungan atau kerugian masing-masing pihak mendapat margin dan menangung risiko bersama.[11]

  1. Berbasis Sewa Menyewa, seperti Ijarah dan Ijarah Muntahiiyah Bit-Tamlik

Ijarah adalah, pembiayaan berupa talangan dana yang dibutuhkan nasabah untuk memiliki suatu barang/jasa dengan kewajiban menyewa barang tersebut sampai jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan akad. Atau kata istilah lain akad untuk mendapatkan manfaat dengan pembayaran.[12]  Aplikasinya dalam perbankan berupa leasing

Ijarah Muntahiiyah Bit-Tamlik,  adalah akad sewa menyewa barang antara bank dengan penyewa yang diikuti janji bahwa pada saat ditentukan kepemilikan barang sewaan akan berpindah kepada penyewa, ringkasnya adalah Sewa yang berakhir dengan kepemilikan.[13]

  1. Berbasis Upah/Jasa Pelayanan, seperti Kafalah, Wakalah, Hiwalah, Rahn dan

Kafalah adalah  yaitu jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafiil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makfuul ‘anhu, ashil). Dalam produk perbankan kafalah dipakai untuk LC, Bank guarantee dll.

Wakalah yaitu pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak kepada pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan. Dalam perbankan wakalah biasanya dengan upah (ujroh) dan dipakai dalam fee based income seperti pembayaran rekening listrik, telpon dll.

Hiwalah  yaitu akad pengalihan hutang dari satu pihak yang berhutang kepada pihak lain yang wajib menanggung (membayar)-nya. Dalam industri perbankan hawalah  dengan upah (fee, ujroh) dipergunakan untuk pengalihan utang dan bisa juga untuk LC.[14]

Rahn (gadai)  yaitu adalah menyimpan sementara harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diberikan oleh si piutang, perbedaan gadai syariah dengan kpnvensional adalah hal pengenaan bunga. Gadai Syariah menerapkan beberapa sistem pembiayaan, antara lain qardhun hasan (pinjaman kebajikan), mudharobah ( bagi hasil) dan muqayyadah ( jual beli).[15]

Jualah, yaitu jasa pelayanan pesanan/permintaan tertentu dari nasabah, misalnya untuk pemesanan tiket pesawat atau barang dengan menggunakan kartu debit/cek/transfer. Atas jasa pelayanan ini bank memperoleh fee.[16]

Selain di dunia perbankan, akad juga dikenal dalam perasuransian syariah atau dikenal dengan akad takaful, yaitu akad dimana saling menanggung. Para peserta asuransi takaful memiliki rasa tanggung jawab bersama untuk membantu dan menolong peserta lain yang mengalami musibah atau kerugian dengan niat ikhlas, karena memikul tanggung jawab dengan niat ikhlas adalah ibadah.[1

D. KESIMPULAN

Islam merumuskan suatu sistem ekonomi yang sama sekali berbeda dengan sistem ekonomi lain yang selama ini kita kenal. Islam memiliki tujuan-tujuan syariah ( maqa-sid al-syari’ah) serta petunjuk operasional (strategi) untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan itu sendiri selain mengacu pada kepentingan manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik, juga memiliki nilai yang sangat penting bagi persaudaraan dan keadilan sosio-ekonomi serta menuntut tingkat kepuasan yang seimbang.

Dalam sistem ekonomi islam, Islam mengajarkan bagaimana ber muamalah yang di ridhai Nya seperti tidak megandung riba, gharar, maysir, tadlis guna mencapai kepuasan materi dan ruhani. Dengan segala petunjuk operasioanal dalam bertransaksi atau istilah akad. Akad yang dilakukan memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena berdasarkan hukum Islam. Produk apa pun yang dihasilkan semua lembaga keuangan syariah tidak akan terlepas dari proses transaksi yang dalam istilah fiqih muamalahnya disebut dengan ‘aqd Akad merupakan prinsip fundamental dalam bertransaksi dengan segala jenisnya dan perkembangannya dimasa sekarang.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Antonio, Muhammad Syafi’i, Bank Syariah Dari Teore ke Praktek, (Jakarta, Gema Insani, 2001)
  2. Ali,Jainuddin, Hukum Asuransi Syariah, (Jakarta,Sinar Grafika,2008)
  3. Dewi,Gemala, Aspek-aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, (Jakarta, Kencana th 2007)
  4. Firdaus, Muhammad, Cara Mudah Memahami Akad-Akad Syariah,( Jakarta, Renaisan, 2005)
  5. Mustafa Edwin Nasution, et al, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, (Jakarta, Kencana th 2006)
  6. Syafe’i, Rachmat, Fiqih Muamalah, (Bandung, Pustaka Setia, 2006)
  7. Wirdyaningsih, et al.,eds., Bank Dan Asuransi Islam Di Indonesia, ( Jakarta, Kencana,2006)

CATATAN KAKI

[1] Muhammad Firdaus, ed., Cara Mudah Memahami Akad-Akad Syariah, (Jakarta, Renaisan, 2005), h. 13

[2] Mustafa Edwin Nasution, et al.,eds., Pengenalan Ekonomi Islam, (Jakarta, Kencana, 2006) h. 294.

[3] Syafe’i Rachmat, Fiqih Muamalah, (Bandung, Pustaka Setia, 2006) h. 63

[4] Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, ( Jakarta, Gema Insani,2001) h. 18

[5] Syafe’i Rachmat, Fiqih Muamalah, ibid. h. 67

[6] Muhammad Firdaus, ed., Cara Mudah Memahami Akad-Akad Syariah, ibid h. 25.

[7] Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, ibid h. 95

[8] Muhammad Firdaus, ed.,, ibid hal. 28

[9] Muhammad Syafi’i Antonio, ibid hal. 113

[10] Wirdyaningsih, et al.,eds., Bank Dan Asuransi Islam Di Indonesia, ( Jakarta, Kencana,2006).h. 105

[11] Zainuddin Ali, Hukum Asuransi Syariah, (Jakarta, Sinar Grafika,2008) hal 41.

[12] Wirdyaningsih, et al.,eds., Bank Dan Asuransi Islam Di Indonesia, ibid. h.114

[13]  Ibid. h 116

[14] Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, (Jakarta, Kencana, 2006) hal 92.

[15] Mustafa Edwin Nasution, et al.,eds., Pengenalan Ekonomi Islam, ibid. h.314

[16] Wirdyaningsih, et al.,eds., Bank Dan Asuransi Islam Di Indonesia, ibid. h. 137.

[17] Gemala Dewi, Aspek-Aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, Ibid. h. 148.

About The Author

Calon Hakim-Aktualisasi PTIP

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *